I was happy once.
Saya pernah benar-benar merasa bahagia. Waktu semuanya mudah, mulai dari pekerjaan, cinta, teman, keluarga... sampai kepada perintilan sekecil-kecilnya. Semuanya mudah. Senyum yang hangat dan riang seperti disajikan di nampan perak setiap harinya. Dan saya bahagia. Bersyukur setiap detiknya dan berdoa semoga kebahagiaan hari itu tetap bertahan sampai besok.
But one day, that silver platter broke.
Sekarang rasanya semuanya salah. Semuanya berat. Semuanya sulit. Rasa bersalah dan emosi sering sekali merambat hingga ke ubun-ubun. Situasi penat selalu menyulut tempramen. Rasanya kalau bisa dilihat, aura saya gelap dan negatif. :p
Lalu datanglah si malaikat bersenyum manis itu. Berparas bapak tua lumpuh yang memakai baju compang-camping. Ia muncul di sebelah jendela mobil tepat begitu saya memaki jalanan yang gak normal. Well, saya hanya mengernyitkan dahi dan menggeleng sambil memberi tangan untuk menolak kehadirannya. Ia hanya tersenyum, kemudian menunduk dan menjauh ke mobil lain.
Sebenarnya itu hal yang biasa, dan saya yakin 99% dari pengemudi mobil pernah melakukannya. Tapi melihat kepergiannya dan terus mengamatinya dari kaca spion membuat saya merasa bersalah. Saya merogoh uang dari dompet tapi lampu keburu hijau, jadi saya terpaksa jalan.
Well, kejadian itu membuat saya berpikir : Kenapa ketidakbahagiaan saya harus membawa ketidakbahagiaan juga bagi orang lain?
Seseorang pernah bilang pada saya, kalau dia tidak bisa membuat orang lain bahagia karena dia sendiri tidak bahagia. Waktu itu saya tidak mengerti, but now I do.
Semakin dewasa, semakin saya mengerti bahwa kebahagiaan adalah pilihan. Jadi saya memutuskan untuk berbahagia untuk diri saya sendiri sebelum bisa membawa dampak bahagia itu ke semua orang. Saya memutuskan berbahagia walau kehilangan banyak hal dan berdilema dengan banyak permasalahan, karena Tuhan masih memberi saya satu hal yang penting dan sering kali dilupakan: waktu.
Waktu untuk menyelesaikan masalah, waktu untuk merebut apa yang hilang, waktu untuk mengobati luka, waktu untuk mendapatkan yang lebih baik, waktu untuk memaafkan, waktu untuk berbahagia...
Jadi, berbahagialah selama masih ada kesempatan karena kita tidak akan pernah tau apakah hari esok itu ada. Dan teruskanlah kebahagiaan itu kepada orang lain, hingga kebahagiaan itu akan kembali sampai ke diri kita. -- Silvia Arnie.
Saya pernah benar-benar merasa bahagia. Waktu semuanya mudah, mulai dari pekerjaan, cinta, teman, keluarga... sampai kepada perintilan sekecil-kecilnya. Semuanya mudah. Senyum yang hangat dan riang seperti disajikan di nampan perak setiap harinya. Dan saya bahagia. Bersyukur setiap detiknya dan berdoa semoga kebahagiaan hari itu tetap bertahan sampai besok.
But one day, that silver platter broke.
Sekarang rasanya semuanya salah. Semuanya berat. Semuanya sulit. Rasa bersalah dan emosi sering sekali merambat hingga ke ubun-ubun. Situasi penat selalu menyulut tempramen. Rasanya kalau bisa dilihat, aura saya gelap dan negatif. :p
Lalu datanglah si malaikat bersenyum manis itu. Berparas bapak tua lumpuh yang memakai baju compang-camping. Ia muncul di sebelah jendela mobil tepat begitu saya memaki jalanan yang gak normal. Well, saya hanya mengernyitkan dahi dan menggeleng sambil memberi tangan untuk menolak kehadirannya. Ia hanya tersenyum, kemudian menunduk dan menjauh ke mobil lain.
Sebenarnya itu hal yang biasa, dan saya yakin 99% dari pengemudi mobil pernah melakukannya. Tapi melihat kepergiannya dan terus mengamatinya dari kaca spion membuat saya merasa bersalah. Saya merogoh uang dari dompet tapi lampu keburu hijau, jadi saya terpaksa jalan.
Well, kejadian itu membuat saya berpikir : Kenapa ketidakbahagiaan saya harus membawa ketidakbahagiaan juga bagi orang lain?
Seseorang pernah bilang pada saya, kalau dia tidak bisa membuat orang lain bahagia karena dia sendiri tidak bahagia. Waktu itu saya tidak mengerti, but now I do.
Semakin dewasa, semakin saya mengerti bahwa kebahagiaan adalah pilihan. Jadi saya memutuskan untuk berbahagia untuk diri saya sendiri sebelum bisa membawa dampak bahagia itu ke semua orang. Saya memutuskan berbahagia walau kehilangan banyak hal dan berdilema dengan banyak permasalahan, karena Tuhan masih memberi saya satu hal yang penting dan sering kali dilupakan: waktu.
Waktu untuk menyelesaikan masalah, waktu untuk merebut apa yang hilang, waktu untuk mengobati luka, waktu untuk mendapatkan yang lebih baik, waktu untuk memaafkan, waktu untuk berbahagia...
Jadi, berbahagialah selama masih ada kesempatan karena kita tidak akan pernah tau apakah hari esok itu ada. Dan teruskanlah kebahagiaan itu kepada orang lain, hingga kebahagiaan itu akan kembali sampai ke diri kita. -- Silvia Arnie.

0 comments:
Post a Comment